LAPORAN
PRAKTIKUM
PENYEHATAN
UDARA
SEMESTER 3
Disusun
Oleh
Widyastuti
Mugi Rahayu
P17433110098
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
JURUSAN
KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM
STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
2011/2012
DAFTAR
ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
........................................................................................... i
Daftar Isi ..................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
.................................................................................. 1
B. Masalah yang Dikaji ........................................................................... 2
C. Tujuan ................................................................................................ 2
D. Metode ............................................................................................... 2
BAB II. HASIL
A. Gambaran Umum Lokasi Riset
.......................................................... 3
B. Hasil
................................................................................................... 3
BAB III. PEMBAHASAN
A. Umum ................................................................................................ 9
B. Khusus ................................................................................................ 10
C. Solusi .................................................................................................. 12
BAB IV. PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 13
B. Saran
.................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Rumah sehat
merupakan salah satu
sarana untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimum. Untuk memperoleh
rumah yang sehat ditentukan oleh
tersedianya sarana sanitasi
perumahan. Sanitasi rumah adalah
usaha kesehatan masyarakat
yang menitikberatkan pada pengawasan
terhadap struktur fisik
dimana orang menggunakannya untuk
tempat tinggal berlindung
yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Bagian rumah yang sangat
perlu diperhatikan salah satunya adalah kamar tidur. Kamar tidur merupakan
tempat dimana seseorang melepaskan penat dan salah satu tempat yang biasanya
digunakan untuk relaksasi diri secara gratis. Kenyamanan kamar tidur sangat
penting karena bila kamar terasa nyaman maka kenyamanan tidur dapat terpenuhi.
Selain itu kenyamanan juga bisa mempengaruhi keadaan psikologis seseorang
karena kamar tidur adalah tempat atau ruangan untuk beristirahat, bila
seseorang kurang beristirahat maka orang tersebut akan mudah emosi, mudah sakit
dll. Kenyamanan kamar tidur dipengaruhi oleh keadaan fisik kamar, antara lain :
a. Tata letak kamar
b. Pencahayaan
c. Suhu dan kelembaban
d. Ukuran kamar
e. Ventilasi
f. Kecepatan aliran udara, dll
Agar kenyamanan tidur dapat
tercapai maka faktor – faktor yang mempengaruhi kenyamanan kamar tidur harus
dipenuhi. Oleh karena itu didalam makalah ini penulis mengkaji tentang pengaruh
keadaan fisik kamar terhadap kenyamanan tidur.
B. Masalah
Yang Dikaji
Dengan didasarkan
latar belakang yang telah
dikemukan diatas, maka
penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana pengaruh
keadaan fisik kamar tidur terhadap kenyamanan tidur dengan membandingkan dua
buah kamar tidur yang berukuran sama dengan tata letak yang sama.
C. Tujuan
Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh keadaan fisik kamar tidur
terhadap kenyamanan tidur.
D. Metode
Penelitian
ini adalah penlitian lapangan sederhana yang bersifat observasional dengan
rancang bagun cross-sectional. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara,
observasi, dan pengukuran langsung yang dilakukan selama 5 hari berturut –
turut yang meliputi, kelembaban, suhu, kepadatan hunian, dan kecepatan aliran
udara.
BAB II
HASIL
A. Gambaran
Umum Lokasi
Lokasi
yang digunakan untuk penelitian adalah dua buah kamar tidur milik Bapak Parijan
Desa Karang Klesem Rt 01/07 Purwokerto Selatan, dengan ukuran ruangan yang sama
dan tata letak ruangannya sama. Jarak rumah dengan jalan raya utama ± 200
meter.
Ruangan
ke-1 terletak 4,5 meter dari pintu utama rumah, sedangkan Ruangan ke-2 terletak
5,4 meter dari pintu utama rumah,bersebelahan persis dengan kamar mandi,
ventilasi ditutup dengan koran, serta jendela dan ventilasi terhalang oleh
rumah milik Bapak Yoko. Dengan 2 jendela yang berdesain sama.
B. Hasil
1.
Wawancara
Terdapat
4 responden untuk wawancara dalam penelitian ini, setelah masing – masing
responden mencoba istirahat pada kedua kamar tersebut.
Responden
menyatakan :
No
|
Nama
|
Umur
|
Kamar 1
|
Kamar 2
|
|||||
nyaman
|
Tidak
|
nyaman
|
Tidak
|
||||||
1
|
Parijan
|
52 thn
|
v
|
-
|
-
|
v
|
|||
Alasan
|
Panas, gerah, lembab
|
||||||||
2
|
Kasmi
|
51 thn
|
v
|
-
|
-
|
v
|
|||
Alasan
|
Panas, gerah, lembab
|
||||||||
3
|
Novita
|
20 thn
|
v
|
-
|
-
|
v
|
|||
Alasan
|
Panas, gerah, lembab
|
||||||||
4
|
Dhea
|
15 thn
|
v
|
-
|
-
|
v
|
|||
Alasan
|
Panas, gerah, lembab
|
||||||||
2.
Pengukuran ( Data )
a.
Ukuran
No
|
Ruangan
|
Arah Kamar
|
Luas ( m2 )
|
Volume ( m3 )
|
Ventilasi
( m2 )
|
1
|
Ruangan pertama
|
Barat
|
6 m2
|
9 m3
|
3x(60x30)
|
2
|
Ruang kedua
|
Barat
|
6 m2
|
9 m3
|
3x(60x30)
|
b.
Kuantitas Kamar
1. Kamar Pertama
Ø Almari = ( 0,45 x 0,82 x 1,84 ) m3 = 0,67896 m3
Ø Meja = ( 0,75 x 0,44 x 0,41 ) m3 = 0,1353 m3
Ø Bed = ( 2,65 x 1,61 x 0,43 ) m3 = 1,834595 m3
Sisa Room
= ( 9 – 2,64 ) m3 = 6,36 m3 (2
orang pengguna)
2. Kamar Kedua
Ø Lemari 1 = ( 1,73 x 0,90 x 0,45 ) m3 = 0,70065 m3
Ø Lemari 2 = ( 1,83 x 0,80 x 0,45 ) m3 = 0,6588 m3
Ø Meja = ( 0,98 x 0,70 x 0,75 ) m3 = 0,5145 m3
Ø Bed = ( 1,91 x 1,52 x 0,50 ) m3 = 1,4516 m3
Sisa Room = ( 9 – 3,325 ) m3 = 5,67 m3 (2 orang
pengguna)
c.
Suhu dan Kelembaban Kamar
No
|
Kamar
|
Hari,tanggal
|
waktu
|
Suhu (°C)
|
Kelembaban (%)
|
||
1
|
K-1
|
Kamis,
08/12/2011
|
06.00
|
26
|
62
|
||
12.00
|
28
|
59
|
|||||
20.00
|
27
|
60
|
|||||
27
|
60,3
|
||||||
K-2
|
06.00
|
26,5
|
69
|
||||
12.00
|
29
|
61
|
|||||
20.00
|
28
|
65
|
|||||
27,83
|
65
|
||||||
2
|
K-1
|
Jumat,
09/12/2011
|
06.10
|
26
|
69
|
||
12.10
|
28
|
63
|
|||||
20.15
|
27
|
67
|
|||||
27
|
66,3
|
||||||
K-2
|
06.10
|
26,5
|
70
|
||||
12.10
|
29
|
64
|
|||||
20.15
|
28
|
69
|
|||||
27,83
|
67,6
|
||||||
3
|
K-1
|
Sabtu,
10/12/2011
|
06.00
|
26
|
69
|
||
12.30
|
28
|
59
|
|||||
20.00
|
27
|
60
|
|||||
27
|
62,6
|
||||||
K-2
|
06.00
|
26,5
|
70
|
||||
12.30
|
29
|
61
|
|||||
20.00
|
27,5
|
67
|
|||||
27,6
|
66
|
||||||
4
|
K-1
|
Minggu,
11/12/2011
|
06.00
|
26
|
66
|
||
12.15
|
28
|
63
|
|||||
20.00
|
27
|
65
|
|||||
27
|
64,6
|
||||||
K-2
|
06.00
|
26,5
|
69
|
||||
12.15
|
29
|
64
|
|||||
20.00
|
28
|
67
|
|||||
27,83
|
66,6
|
||||||
5
|
K-1
|
Senin,
12/12/2011
|
06.15
|
26
|
64
|
||
13.00
|
27,5
|
57
|
|||||
20.01
|
26
|
60
|
|||||
26,5
|
60,3
|
||||||
K-2
|
06.15
|
26
|
65
|
||||
13.00
|
28
|
60
|
|||||
20.01
|
26,5
|
64
|
|||||
26,83
|
63
|
||||||
Kamar
|
Rata-Rata 5 Hari
|
||||||
Suhu ( 0C )
|
Kelembaban ( % )
|
||||||
Kamar
pertama
|
26,9
|
62,83
|
|||||
Kamar
kedua
|
27,58
|
65,64
|
|||||
d. Kecepatan
aliran udara
No
|
Kamar
|
Hari,tanggal
|
waktu
|
Kecepatan aliran udara (m/s)
|
Rata2 kecepatan aliran udara
(m/s)
|
1
|
K-1
|
Kamis,
08/12/2011
|
07.45
|
0,15
|
0,155
|
14.00
|
0,16
|
||||
K-2
|
07.45
|
0,10
|
0,105
|
||
14.00
|
0,11
|
||||
2
|
K-1
|
Jumat,
09/12/2011
|
07.45
|
0,16
|
0.18
|
14.00
|
0,2
|
||||
K-2
|
07.45
|
0,15
|
0.125
|
||
14.00
|
0,10
|
||||
3
|
K-1
|
Sabtu,
10/12/2011
|
07.45
|
0,25
|
0,205
|
14.00
|
0,16
|
||||
K-2
|
07.45
|
0,11
|
0,11
|
||
14.00
|
0,11
|
||||
4
|
K-1
|
Minggu,
11/12/2011
|
07.45
|
0,17
|
0,185
|
14.00
|
0,20
|
||||
K-2
|
07.45
|
0,14
|
0,145
|
||
14.00
|
0,15
|
||||
5
|
K-1
|
Senen,
12/12/2011
|
07.45
|
0,15
|
0,17
|
14.00
|
0,19
|
||||
K-2
|
07.45
|
0,13
|
0,135
|
||
14.00
|
0,14
|
BAB III
PEMBAHASAN
A. Umum
Dari
hasil pengukuran selama 5 hari berturut – urut dari beberapa faktor yang
mempengaruhi kenyamanan sebuah ruangan yang meliputi :
a. Ukuran
ruangan
b. Kepadatan
hunian dan kepadatan ruangan
c. Suhu
dan kelembaban
d. Kecepatan
aliran udara,
Data yang didapatkan yaitu
pada kamar pertama suhu rata – rata 26,90C, kelembaban rata – rata 62,83 %, dengan
kecepatan aliran udara 0,15 – 0,205
m/det. Sedangkan pada
kamar kedua memiliki suhu rata – rata 27,580C, kelembabaan rata –
rata 65,64 %, dan dengan kecepatan aliran udara 0,105 – 0,145 m/det.
Dari
ke empat faktor yang di teliti didapatkan beberapa perbedaan anatar kedua
ruangan tersebut yaitu pada suhu, temperatur, dan kecepatan aliran udara yang
dimana ruangan tersebut memiliki volume ruangan yang sama, arah yang sama,
design jendela dan ventilasi yang sama, serta jumlah ventilasi dan design yang
sama.
Hal ini kemungkinan besar terjadi
karena beberapa hal :
1. Penutupan
2 ventilasi pada kamar kedua sehingga temperatur kamar 2 lebih tinggi
dibandingkan kamar 1.
2. Lebih
banyaknya perabotan pada kamar dua, sehingga menyebabkan temperatur ruangan
kamar 2 lebih tinggi dengan kamar 1.
3. Kamar
2 bersebelahan persis dengan kamar mandi, hal itu yang menjadikan kelembaban
pada kamar 2 lebih tinggi dari kamar 1.
4. Terhalangnya
jendela dan ventilasi kamar 2 oleh rumah milik bapak Yoko, menyebabkan
melambatnya kecepatan aliran udara.
B. Khusus
1. Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan suatu ruangan karena
tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk metabolisme basal dan
muskuler. Namun dari semua energi yang dihasilkan tubuh hanya 20 % saja yang
dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke lingkungan.
Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu sesuai Kepmenkes
No.261 bahwa suhu yang dianggap nyaman adalah 18-270C maka suhu pada kamar pertama ( 26,90C ) masih berada pada standar kondisi nyaman, sedangkan kamar kedua ( 27,580C ) lebih dari standar kondisi nyaman yang telah ditetapkan. Selain
itu banyaknya perabotan yang ada dalam suatu ruangan juga mempengaruhi
peningkatan suhu, ini terbukti dengan lebih tingginya suhu pada kamar kedua
dibandingkan kamar pertama yang dengan lebih sedikit perabotan daripada kamar
kedua.
Suhu udara kamar yang terlalu panas atau tinggi menyebabkan
kurangnya tingkat kenyamanan bagi pemakai ruangan untuk tidur atau beristirahat.
Bila suhu kamar panas tubuh akan
mengeluarkan keringat, sehingga kita akan kekurangan cairan tubuh, yang membuat
kita menjadi tidak nyaman dan terbangun.
2. Pada dasarnya kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang
dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan
kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil
pengukuran kelembaban relatif pada kamar pertama adalah 62,83 %, sedangkan pada kamar kedua 65,64 %. Jika dibandingkan dengan
Standar Baku Mutu sesuai dengan Kepmenkes No. 261 dimana kelembaban ideal
berkisar antara 40 – 65 %, maka dari hasil pengukuran kelembaban pada kamar
kedua diatas standar yang berarti potensial sebagai tempat pertumbuhan
mikroorganisme.
3. Hasil pengukuran kecepatan aliran udara pada kamar
pertama berkisar anatara 0,15 – 0,205 m/det sedangkan pada kamar kedua berkisar
antara 0,105 – 0,145 m/det. Menurut Standard Baku Mutu Kepmenkes No.261
kecepatan aliran udara yang ideal berkisar antara 0,15 - 0,25 m/det.
Arismunandar dan Saito (1991) menyatakan bahwa kecepatan aliran udara < 0,15
m/det menjadikan ruangan tida nyaman karena tidak ada pergerakan udara
sebaliknya bila kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan cold
draft atau kebisingan di dalam ruangan.
Dari perbandingan diatas, maka kamar kedua masuk dalam kategori
tidak nyaman. Dikarenakan kecepatan aliran udaranya < 0,15 m/det, sehingga
pergerakan udaranya tidak ada atau lambat. Kurangnya kecepatan aliran udara
pada kamar kedua mungkin dikarenakan terhalangnya jendela dan ventilasi pada kamar
kedua oleh rumah milik Bapak Yoko.
C. Solusi
Solusi
yang dapat dilakukan pada kamar kedua yang belum memenuhi kategori nyaman dapat
dilakukan beberapa alternatif sederhana, diantaranya :
Ø Ventilasi pada kamar kedua
seharusnya dibukak saja, bila penutupan dilakukan dengan tujuan menghalangi
masuknya serangga seperti nyamuk kedalam kamar. Penutupan dapat diganti dengan
strimin halus.
Ø Mengurangi kapasitas perabot
atau mengubah tata letak perabotan yang ada dalam ruangan dapat membantu
penurunan suhu dan akan terlihat lebih luas. Sehingga persepsi sumpek pada
ruangan tersebut berkurang.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
pengamatan yang dilakukan dengan membandingkan dua buah kamar tidur yang
berukuran sama dengan tata letak yang sama yang dimiliki oleh Bapak Parijan di
Desa Karang Klesm Rt 01/07 Purwokerto Selatan maka dapat disimpulkan bahwa :
a. Suhu rata
– rata pada kamar pertama ( 26,90C
) masuk dalam kondisi nyaman ( 18 – 270C ), sedangkan suhu rata –
rata pada kamar kedua ( 27,580C ) masih dalam batas normal tetapi
belum masuk dalam kondisi nyaman.
b. Kelembaban rata – rata pada
kamar pertama (62,83 % ) masuk dalam
zona nyaman ( 30 – 65% ) dan masuk dalam ruangan dengan kelembaban ideal ( 40 –
65% ). Sedangkan kelembaban rata – rata pada kamar kedua ( 65,64% ) tidak masuk
dalam zona nyaman dan bukan merupakan kelembaban yang ideal.
c. Kecepatan aliran udara pada
kamar pertama (0,15 – 0,205
m/det ), memenuhi persyaratan yang telah ditentukan berdasarkan Kepmenkes No.
261 ( 0,15 – 0,25 m/det ). Sedangkan pada kamar kedua (0,105 – 0,145 m/det ), masuk
dalam kategori tidak nyaman. Dikarenakan kecepatan aliran udaranya < 0,15
m/det, sehingga pergerakan udaranya tidak ada atau lambat.
B. Saran
Saran
perbaikan yang dapat di berikan agar faktor – faktor yang mempengaruhi
kenyamanan kamar sehingga kenyaman tidur terjamin adalah :
1. Kondisi suhu yang belum masuk
dalam zona nyaman, perlu diupayakan pemberian fasilitas yang dapat mengurangi
suhu seperti kipas angin, ac atau bisa juga memperbaiki fungsi ventilasi yang
telah ada. Pendingin udara juga bertujuan untuk menjaga tingkat kelembaban
nisbi di ruangan.
2. Pengaturan kembali tata letak
perabot dan pengurangan kuantitas perabot dalam suatu ruangan juga perlu
dilakukan untuk mengurangi suhu di dalam ruangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar