Jumat, 09 November 2012

LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN UDARA


LAPORAN PRAKTIKUM
PENYEHATAN UDARA



SEMESTER 3

Disusun Oleh
Widyastuti Mugi Rahayu
P17433110098





POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
2011/2012
DAFTAR ISI

Halaman Judul           
Kata Pengantar ...........................................................................................   i
Daftar Isi .....................................................................................................   ii
BAB I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang ..................................................................................   1
B.  Masalah yang Dikaji ...........................................................................  2
C.  Tujuan ................................................................................................   2
D.  Metode ...............................................................................................  2
BAB II. HASIL
A.  Gambaran Umum Lokasi Riset .......................................................... 3
B.  Hasil ...................................................................................................   3
BAB III. PEMBAHASAN
A.  Umum ................................................................................................  9
B.  Khusus ................................................................................................  10
C.  Solusi ..................................................................................................  12
BAB IV. PENUTUP
A.  Kesimpulan .........................................................................................  13
B.  Saran ..................................................................................................  14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Rumah  sehat  merupakan  salah  satu  sarana  untuk  mencapai derajat  kesehatan  yang  optimum. Untuk  memperoleh  rumah  yang sehat ditentukan  oleh  tersedianya  sarana  sanitasi  perumahan. Sanitasi  rumah  adalah  usaha  kesehatan  masyarakat  yang menitikberatkan  pada  pengawasan  terhadap  struktur  fisik  dimana orang  menggunakannya  untuk  tempat  tinggal  berlindung  yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Bagian rumah yang sangat perlu diperhatikan salah satunya adalah kamar tidur. Kamar tidur merupakan tempat dimana seseorang melepaskan penat dan salah satu tempat yang biasanya digunakan untuk relaksasi diri secara gratis. Kenyamanan kamar tidur sangat penting karena bila kamar terasa nyaman maka kenyamanan tidur dapat terpenuhi. Selain itu kenyamanan juga bisa mempengaruhi keadaan psikologis seseorang karena kamar tidur adalah tempat atau ruangan untuk beristirahat, bila seseorang kurang beristirahat maka orang tersebut akan mudah emosi, mudah sakit dll. Kenyamanan kamar tidur dipengaruhi oleh keadaan fisik kamar, antara lain :
a.   Tata letak kamar
b.   Pencahayaan
c.   Suhu dan kelembaban
d.   Ukuran kamar
e.   Ventilasi
f.    Kecepatan aliran udara, dll
Agar kenyamanan tidur dapat tercapai maka faktor – faktor yang mempengaruhi kenyamanan kamar tidur harus dipenuhi. Oleh karena itu didalam makalah ini penulis mengkaji tentang pengaruh keadaan fisik kamar terhadap kenyamanan tidur.
B.  Masalah Yang Dikaji
Dengan  didasarkan  latar  belakang  yang telah  dikemukan  diatas,  maka  penelitian  ini adalah  untuk  mengetahui  bagaimana pengaruh keadaan fisik kamar tidur terhadap kenyamanan tidur dengan membandingkan dua buah kamar tidur yang berukuran sama dengan tata letak yang sama.
C.  Tujuan
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh keadaan fisik kamar tidur terhadap kenyamanan tidur.
D.  Metode
Penelitian ini adalah penlitian lapangan sederhana yang bersifat observasional dengan rancang bagun cross-sectional. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan pengukuran langsung yang dilakukan selama 5 hari berturut – turut yang meliputi, kelembaban, suhu, kepadatan hunian, dan kecepatan aliran udara.
BAB II
HASIL

A.  Gambaran Umum Lokasi
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah dua buah kamar tidur milik Bapak Parijan Desa Karang Klesem Rt 01/07 Purwokerto Selatan, dengan ukuran ruangan yang sama dan tata letak ruangannya sama. Jarak rumah dengan jalan raya utama ± 200 meter.

Ruangan ke-1 terletak 4,5 meter dari pintu utama rumah, sedangkan Ruangan ke-2 terletak 5,4 meter dari pintu utama rumah,bersebelahan persis dengan kamar mandi, ventilasi ditutup dengan koran, serta jendela dan ventilasi terhalang oleh rumah milik Bapak Yoko. Dengan 2 jendela yang berdesain sama.

B.  Hasil
1.   Wawancara
Terdapat 4 responden untuk wawancara dalam penelitian ini, setelah masing – masing responden mencoba istirahat pada kedua kamar tersebut.
Responden menyatakan :
No

Nama
Umur

Kamar 1
Kamar 2
nyaman
Tidak
nyaman
Tidak
1
Parijan
52 thn
v
-
-
v
Alasan

Panas, gerah, lembab
2
Kasmi
51 thn
v
-
-
v
Alasan

Panas, gerah, lembab
3
Novita
20 thn
v
-
-
v
Alasan

Panas, gerah, lembab
4
Dhea
15 thn
v
-
-
v
Alasan

Panas, gerah, lembab

2.   Pengukuran ( Data )
a.   Ukuran
No
Ruangan
Arah Kamar
Luas ( m2 )
Volume ( m3 )
Ventilasi
( m2 )
1
Ruangan pertama
Barat
6 m2
9 m3
3x(60x30)
2
Ruang kedua
Barat
6 m2
9 m3
3x(60x30)

b.   Kuantitas Kamar
1.   Kamar Pertama
Ø Almari       = ( 0,45 x 0,82 x 1,84 ) m3      = 0,67896 m3
Ø Meja         = ( 0,75 x 0,44 x 0,41 ) m3       = 0,1353 m3
Ø Bed           = ( 2,65 x 1,61 x 0,43 ) m3      = 1,834595 m3
Sisa Room    = ( 9 – 2,64 ) m3                      = 6,36 m3 (2 orang pengguna)
2.   Kamar Kedua
Ø Lemari 1   = ( 1,73 x 0,90 x 0,45 ) m3      = 0,70065 m3
Ø Lemari 2   = ( 1,83 x 0,80 x 0,45 ) m3      = 0,6588 m3
Ø Meja         = ( 0,98 x 0,70 x 0,75 ) m3       = 0,5145 m3
Ø Bed           = ( 1,91 x 1,52 x 0,50 ) m3      = 1,4516 m3
Sisa Room    = ( 9 – 3,325 ) m3                    = 5,67 m3 (2 orang pengguna)

c.   Suhu dan Kelembaban Kamar
No
Kamar
Hari,tanggal
waktu
Suhu (°C)
Kelembaban (%)
1
K-1
Kamis,
08/12/2011
06.00
26
62
12.00
28
59
20.00
27
60
1

27
60,3
K-2
06.00
26,5
69
12.00
29
61
20.00
28
65
2

27,83
65
2
K-1
Jumat,
09/12/2011
06.10
26
69
12.10
28
63
20.15
27
67
1

27
66,3
K-2
06.10
26,5
70
12.10
29
64
20.15
28
69
2

27,83
67,6
3
K-1
Sabtu,
10/12/2011
06.00
26
69
12.30
28
59
20.00
27
60
1

27
62,6
K-2
06.00
26,5
70
12.30
29
61
20.00
27,5
67
2

27,6
66
4
K-1
Minggu,
11/12/2011
06.00
26
66
12.15
28
63
20.00
27
65
1

27
64,6
K-2
06.00
26,5
69
12.15
29
64
20.00
28
67
2

27,83
66,6
5
K-1
Senin,
12/12/2011
06.15
26
64
13.00
27,5
57
20.01
26
60
1

26,5
60,3
K-2
06.15
26
65
13.00
28
60
20.01
26,5
64
2

26,83
63
Kamar
Rata-Rata 5 Hari
Suhu ( 0C )
Kelembaban ( % )
Kamar pertama
26,9
62,83
Kamar kedua
27,58
65,64


d.   Kecepatan aliran udara

No

Kamar

Hari,tanggal

waktu
Kecepatan aliran udara (m/s)
Rata2 kecepatan aliran udara (m/s)
1
K-1
Kamis,
08/12/2011
07.45
0,15
0,155
14.00
0,16
K-2
07.45
0,10
0,105
14.00
0,11
2
K-1
Jumat,
09/12/2011
07.45
0,16
0.18
14.00
0,2
K-2
07.45
0,15
0.125
14.00
0,10
3
K-1
Sabtu,
10/12/2011
07.45
0,25
0,205
14.00
0,16
K-2
07.45
0,11
0,11
14.00
0,11
4
K-1
Minggu,
11/12/2011
07.45
0,17
0,185
14.00
0,20
K-2
07.45
0,14
0,145
14.00
0,15
5
K-1
Senen,
12/12/2011
07.45
0,15
0,17
14.00
0,19
K-2
07.45
0,13
0,135
14.00
0,14
BAB III
PEMBAHASAN 
A.  Umum
Dari hasil pengukuran selama 5 hari berturut – urut dari beberapa faktor yang mempengaruhi kenyamanan sebuah ruangan yang meliputi :
a.   Ukuran ruangan
b.   Kepadatan hunian dan kepadatan ruangan
c.   Suhu dan kelembaban
d.   Kecepatan aliran udara,
Data yang didapatkan yaitu pada kamar pertama suhu rata – rata 26,90C, kelembaban rata – rata 62,83 %, dengan kecepatan aliran udara 0,15 – 0,205 m/det. Sedangkan pada kamar kedua memiliki suhu rata – rata 27,580C, kelembabaan rata – rata 65,64 %, dan dengan kecepatan aliran udara 0,105 – 0,145 m/det.
Dari ke empat faktor yang di teliti didapatkan beberapa perbedaan anatar kedua ruangan tersebut yaitu pada suhu, temperatur, dan kecepatan aliran udara yang dimana ruangan tersebut memiliki volume ruangan yang sama, arah yang sama, design jendela dan ventilasi yang sama, serta jumlah ventilasi dan design yang sama.
Hal ini kemungkinan besar terjadi karena beberapa hal :
1.   Penutupan 2 ventilasi pada kamar kedua sehingga temperatur kamar 2 lebih tinggi dibandingkan kamar 1.
2.   Lebih banyaknya perabotan pada kamar dua, sehingga menyebabkan temperatur ruangan kamar 2 lebih tinggi dengan kamar 1.
3.   Kamar 2 bersebelahan persis dengan kamar mandi, hal itu yang menjadikan kelembaban pada kamar 2 lebih tinggi dari kamar 1.
4.   Terhalangnya jendela dan ventilasi kamar 2 oleh rumah milik bapak Yoko, menyebabkan melambatnya kecepatan aliran udara.

B.  Khusus
1.   Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan suatu ruangan karena tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk metabolisme basal dan muskuler. Namun dari semua energi yang dihasilkan tubuh hanya 20 % saja yang dipergunakan dan sisanya akan dibuang ke lingkungan.
Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu  sesuai Kepmenkes No.261 bahwa suhu yang dianggap nyaman adalah 18-270C maka suhu pada kamar pertama ( 26,90C ) masih berada pada standar kondisi nyaman, sedangkan kamar kedua ( 27,580C ) lebih dari standar kondisi nyaman yang telah ditetapkan. Selain itu banyaknya perabotan yang ada dalam suatu ruangan juga mempengaruhi peningkatan suhu, ini terbukti dengan lebih tingginya suhu pada kamar kedua dibandingkan kamar pertama yang dengan lebih sedikit perabotan daripada kamar kedua.
Suhu udara  kamar yang terlalu panas atau tinggi menyebabkan kurangnya tingkat kenyamanan bagi pemakai ruangan untuk tidur atau beristirahat. Bila suhu kamar panas tubuh akan mengeluarkan keringat, sehingga kita akan kekurangan cairan tubuh, yang membuat kita menjadi tidak nyaman dan terbangun.
2.   Pada dasarnya kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil pengukuran kelembaban relatif pada kamar pertama adalah 62,83 %, sedangkan pada kamar kedua 65,64 %. Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu sesuai dengan Kepmenkes No. 261 dimana kelembaban ideal berkisar antara 40 – 65 %, maka dari hasil pengukuran kelembaban pada kamar kedua diatas standar yang berarti potensial sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme.
3.   Hasil pengukuran kecepatan aliran udara pada kamar pertama berkisar anatara 0,15 – 0,205 m/det sedangkan pada kamar kedua berkisar antara 0,105 – 0,145 m/det. Menurut Standard Baku Mutu Kepmenkes No.261 kecepatan aliran udara yang ideal berkisar antara 0,15 - 0,25 m/det. Arismunandar dan Saito (1991) menyatakan bahwa kecepatan aliran udara < 0,15 m/det menjadikan ruangan tida nyaman karena tidak ada pergerakan udara sebaliknya bila kecepatan udara terlalu tinggi akan menyebabkan cold draft  atau kebisingan di dalam ruangan.
Dari perbandingan diatas, maka kamar kedua masuk dalam kategori tidak nyaman. Dikarenakan kecepatan aliran udaranya < 0,15 m/det, sehingga pergerakan udaranya tidak ada atau lambat. Kurangnya kecepatan aliran udara pada kamar kedua mungkin dikarenakan terhalangnya jendela dan ventilasi pada kamar kedua oleh rumah milik Bapak Yoko.

C.  Solusi
Solusi yang dapat dilakukan pada kamar kedua yang belum memenuhi kategori nyaman dapat dilakukan beberapa alternatif sederhana, diantaranya :
Ø Ventilasi pada kamar kedua seharusnya dibukak saja, bila penutupan dilakukan dengan tujuan menghalangi masuknya serangga seperti nyamuk kedalam kamar. Penutupan dapat diganti dengan strimin halus.
Ø Mengurangi kapasitas perabot atau mengubah tata letak perabotan yang ada dalam ruangan dapat membantu penurunan suhu dan akan terlihat lebih luas. Sehingga persepsi sumpek pada ruangan tersebut berkurang.

BAB IV
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Dari pengamatan yang dilakukan dengan membandingkan dua buah kamar tidur yang berukuran sama dengan tata letak yang sama yang dimiliki oleh Bapak Parijan di Desa Karang Klesm Rt 01/07 Purwokerto Selatan maka dapat disimpulkan bahwa :
a.    Suhu rata – rata pada kamar pertama ( 26,90C ) masuk dalam kondisi nyaman ( 18 – 270C ), sedangkan suhu rata – rata pada kamar kedua ( 27,580C ) masih dalam batas normal tetapi belum masuk dalam kondisi nyaman.
b.    Kelembaban rata – rata pada kamar pertama (62,83 % ) masuk dalam zona nyaman ( 30 – 65% ) dan masuk dalam ruangan dengan kelembaban ideal ( 40 – 65% ). Sedangkan kelembaban rata – rata pada kamar kedua ( 65,64% ) tidak masuk dalam zona nyaman dan bukan merupakan kelembaban yang ideal.
c.    Kecepatan aliran udara pada kamar pertama (0,15 – 0,205 m/det ), memenuhi persyaratan yang telah ditentukan berdasarkan Kepmenkes No. 261 ( 0,15 – 0,25 m/det ). Sedangkan pada kamar kedua (0,105 – 0,145 m/det ), masuk dalam kategori tidak nyaman. Dikarenakan kecepatan aliran udaranya < 0,15 m/det, sehingga pergerakan udaranya tidak ada atau lambat.

B.  Saran
Saran perbaikan yang dapat di berikan agar faktor – faktor yang mempengaruhi kenyamanan kamar sehingga kenyaman tidur terjamin adalah :
1.   Kondisi suhu yang belum masuk dalam zona nyaman, perlu diupayakan pemberian fasilitas yang dapat mengurangi suhu seperti kipas angin, ac atau bisa juga memperbaiki fungsi ventilasi yang telah ada. Pendingin udara juga bertujuan untuk menjaga tingkat kelembaban nisbi di ruangan.
2.   Pengaturan kembali tata letak perabot dan pengurangan kuantitas perabot dalam suatu ruangan juga perlu dilakukan untuk mengurangi suhu di dalam ruangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar